Polling

Bagaimanakah kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Profil / Sejarah Alian

Sejarah Alian

Alian adalah sebuah kecamatan di Kabupaten KebumenProvinsi Jawa TengahIndonesia. Kecamatan Alian terletak di sebelah timur laut Kota Kebumen. Jarak Kecamatan Alian dari Kota Kebumen adalah 11 kilometer melalui Sruni. Luas wilayahnya 57.750 kmĀ², dan jumlah penduduknya 54.364 jiwa (laki-laki 27.098 jiwa, perempuan 27.266 jiwa). Kecamatan Alian terdiri atas 16 desa, 73 RW, dan 286 RT. Pusat pemerintahan Kecamatan Alian berada di Desa Krakal

Desa/kelurahan

  1. Bojongsari
  2. Jatimulyo
  3. Kalijaya
  4. Kaliputih
  5. Kalirancang
  6. Kambangsari
  7. Karangkembang
  8. Karangtanjung
  9. Kemangguhan
  10. Krakal
  11. Sawangan
  12. Seliling
  13. Surotrunan
  14. Tanuharjo
  15. Tlogowulung
  16. Wonokromo


Batas-Batas

  1. Sebelah Barat: Kecamatan Pejagoan
  2. Sebelah Timur: Kecamatan Padureso dan Kabupaten Wonosobo
  3. Sebelah Utara: Kecamatan Karangsambung
  4. Sebelah Selatan: Kecamatan Kebumen dan Kecamatan Poncowarno


Geografi

Kecamatan Alian memiliki kondisi geografi berupa lembah dan perbukitan yang merupakan bagian dari Pegunungan Serayu Selatan. Ketinggian rata-rata Kecamatan Alian adalah 169 meter di atas permukaan air laut. Puncak tertingginya adalah puncak Bukit Prabu di Perbukitan Silender atau lebih dikenal dengan Perbukitan Kebapangan yang memiliki ketinggian 425 meter di atas permukaan air laut yang berada di perbatasan Desa Kaliputih dengan Kecamatan Poncowarno. Sungai terbesar di wilayah ini yakni Sungai Luk Ulo, Sungai Kedungbener, Sungai Kalijaya, Sungai Tekung dan Sungai Bakung.

Pariwisata dan Sosial Budaya

1. Pemandian Air Panas (PAP) Krakal

Pemandian Air Panas (PAP) Krakal
Tempat wisata ini terletak di Desa Krakal dan Kalirancang. Pemandian Air Panas Krakal menawarkan pengunjung untuk berwisata husada. Air hangat alami yang disediakan tempat ini dipercaya mampu mengobati penyakit kulit. Hal ini karena kandungan mineral mata air panas Krakal yang terbilang lengkap dari formasi batuan Penosogan Karangsambung. Di antaranya sulfat 1236 mg/l, kesadahan 320,3 mg/l, tembaga 0,2 mg/l, fluorida 0,7 mg/l, amonia 3,9 mg/l, nitrat 0,7 mg/l dan nitrit 0,0 mg/l, serta kebutuhan biologi akan oksigen 4,6 mg/l. Objek wisata ini tidak seperti pemandian air panas pada umumnya. Karena, di tempat ini disediakan kamar-kamar untuk tempat pemandian air panas sebanyak enam ruangan. Kondisi ruangan memang sangat bersih dengan satu bathub yang dilengkapi kran untuk mengeluarkan sumber mata air panas. Sementara, di depan ruangan terdapat bangku-bangku panjang sebagai tempat duduk pengunjung yang mengantri[1]. Fasilitas disini pun tergolong sangat baik dengan adanya warung makanan, panggung hiburan, mushala, taman, hingga tempat bermain anak.

2. Wisata Alam Kedungdawa (WAK) Seliling

Objek wisata Kedungdawa terletak di Desa Seliling. Wisata alam ini merupakan sungai kecil di tengah hutan yang berada di lereng bukit, tak jauh dari pegunungan Blawong. Lokasi yang terletak di barat daya Desa seliling sekitar 1,5 kilometer dari Jalan Raya Pemandian Timur (PAP Krakal) itu, selain karena masih alami dan di kelilingi hutan. Sungai ini memilki keunikan tersendiri, yakni terdapat bebatuan yang dipenuhi lubang 'kedung' dengan kedalaman yang bervariasi. Mulai dari satu meter hingga mencapai kedalaman 3 meter. Bahkan menurut warga setempat,pernah ditermukan ada kedung yang memiliki kedalaman hingga 5 meter lebih. Namun kini lubang-lubang batu tersebut sudah tertimbun bebatuan dan sedimentasi. Selaini itu, Kedungdawa juga memiliki banyak air terjun kecil atau yang biasa disebut dengan curug yang terdapat disepanjang sungainya. Air terjun yang tidak terlalu tinggi itu mengucur deras jika musim penghujan tiba dan akan kering jika musim kemarau. Salah satu air terjun memiliki empat undakan dengan tinggi sekira sepuluh meter[2].

3. Alian Butterfly Park (ABK) Krakal

Tempat wisata ini terletak di Desa Krakal. Tepatnya di sebelah utara objek wisata Pemandian Air Panas (PAP) Krakal. Objek wisata yang memiliki konsep taman kupu-kupu ini masih tergolong baru dan yang pertama di Kabupaten Kebumen. Disini pengunjung dapat menikmati cantiknya kupu-kupu. Selain bisa menikmati indahnya ratusan kupu-kupu yang beterbangan dan hinggap di pepohonan, pengunjung juga bisa melihat bagian dari proses metamorfosa kupu-kupu. Alian Butterfly Park menyediakan beraneka jenis kupu-kupu yang dapat dilihat dan dinikmati keindahannya sekaligus dapat sebagai pembelajaran bagi para siswa untuk menambah pengetahuannya. Saat ini Alian Butterfly Park telah memiliki lebih dari 14 spesies kupu-kupu[3]. Terpisah, tepatnya diselatan Pemandian Air Panas (PAP) Krakal terdapat hutan jati yang disulap menjadi tempat penangakaran rusa Bawean dan taman beserta air terjun buatan, kantin bernuansa Jawa serta beberapa tempat duduk. Selain itu juga terdapat tempat permainan anak-anak yang disediakan meliputi, egrang batok, gangsing, panggal, gethik dan dolanan tradisional lainnya.

4. Benda Cagar Budaya Makam Eyang Sabda Guna

Makam yang juga dikenal dengan Makam Stana Budha ini berada di Desa Kalirancang. Belum jelas secara pasti makam siapa sebenarnya. Namun beberapa sumber menyebut ia merupakan tokoh penting dalam peradaban Kabupaten Kebumen dimasa silam. Letaknya di atas Bukit Sikenap dan dikelilingi hutan. Namun pemandangan dari makam yang sering dikunjungi para pencari hal-hal spiritual ini cukup memanjakan mata. Makam ini dilindungi oleh Pemkab Kebumen sebagai Benca Cagar Budaya.

5. Benda Cagar Budaya Makam Ki Badranala

Makam ini terletak di Desa Karangkembang. Makam ini berada di atas perbukitan yang dikenal dengan nama Gunung Kenap, di bawah sebuah pohon besar. Ia merupakan Bupati pertama kabupaten Panjer pada tahun 1642.

6. Benda Cagar Budaya Makam R.A. Tan Peng Nio Kalapaking

Makam Tan Peng Nio terletak di tengah sawah di Desa Jatimulyo adalah puteri Tan Wan Swee, seorang jenderal pelarian dari Tiongkok semasa dinasti Qing. Tan Wan Swee dikabarkan ikut dalam pemberontakan etnis Tionghoa bersama Mas Garendi yang dikenal sebagai peristiwa Geger Pecinan yang menyerbu Keraton Kartasura. Tan Wan Swee juga dianggap berpengaruh dalam membawa seni beladiri Kuntao (Konto) ke Kebumen. Makam ini juga sudah dijadikan Benda Cagar Budaya oleh Pemkab Kebumen.